Minggu, 30 Maret 2014

Surat Penghujung Maret

Chapter 2

Udara yang memaksa raga tuk berselimut dalam kehangatan hati yang sedang merindu, aku menulisnya untukmu.
Ku lihat senja berdamai dalam langkah menuju malam, ketika kedudukan mentari direbut paksa oleh rembulan yang kadang purnama dan kadang juga sabit. Entah dimana angin membawa senja, kutengok ufuk barat yang konon tempat  mentari bersembunyi, sayang seribu sayang yang kudapatkan hanyalah batas laut sepanjang mata memandang. Bukan hanya mata ini yang mencari, senja itu pergi tanpa pesan mengirim rembulan sebagai gantinya. Jangan kau kira rembulan itu baik untukku, bisa saja cahayanya itu menyilaukan mataku, namun tak pernah juga ku kira bahwa mentari ternyata lebih kejam daripada rembulan, salah sedikit panasnya bisa membakar tubuhku merasuk menghanguskan hatiku.

Kau mentari itu, menjelma menjadi pelumpuh hati, yang sinar matanya tak dapat kuhindari. Ini memang konyol bercerita tentangmu tak pernah ada bandingnya.

“Angki…”  lantunku dalam hati seolah mengeja abjad serupa dengan anak bau kencur berbaju merah putih.
Setahun berlalu, nama itu selalu kusebutkan dalam sepi ketika gelora rinduku memuncak. Lidahku sudah terlatih untuk melantunkannya di setiap langkah bahkan hembusan nafas. Pernah sesekali aku mencoba tak mengingatnya, namun dadaku seperti disumbat oleh rindu yang kadang malu menamai namanya sendiri sebagai kerinduan. Semakin lama menahannya rasanya ingin tumpah ruah saja hasrat ingin segera bertemu denganmu, Angki.

Aku yang selalu melebih-lebihkannya, berharap kala sendu jemarimu bisa masuk diantara sela jariku, tak peduli jari jempol kelingking atau manis, yang kuindahkan adalah jarimu, bukan jari yang lain. Februari yang lalu, aku tak sempat mengirimkan surat pertanda rinduku padamu, bukan karena aku tak merindu lagi, namun gravitasi kesibukan semakin menarik jariku ini lebih terbiasa mengetik tugas yang kadang beribu-beribu kata. Aku jenuh !

Jika dirunut dari tanggal kukirimnya, akhir maret. Semoga kau ada waktu untuk membuka surat ini, namun ciumi dulu perangkonya agar aku merasakan bahwa kau juga sedang menahan beban rindu yang sama halnya dengan yang kurasakan.

Seperti ini suratku….

“kekasihku yang tercinta dan terkasih, setahun sudah berlalu namun bayangmu masih saja selalu berada di sampingku, bahkan sekarang, saat aku sedang menulis surat ini aku merasakan hembusan nafasmu terdengar di telingaku, “ahh mimpi apa aku ini” tulisku dalam surat.

Angki yang kusayangi, maafku tercurah pada suratku ini, tak pernah kukirim surat lagi sejak bulan kemarin, aku meminta maaf. Namun yang harus kau tahu aku tak pernah lupa bahwa kau selalu ada di sini, yah di hatiku paling dalam. Sayang, aku ingin bercerita entah mengapa beban kuliahku saat ini membuat aku letih bahkan sangat letih sekali. Aku tak punya waktu lagi untuk menabur bunga cinta di atas pusaramu, tapi kamu jangan sedih, esok bersama dengan suratku ini, bunga itu akan segera menghiasi pusaramu. Masih ingatkah kamu taman cinta kita, batas antara tempat ibadah kita? Aku harap kau mengingatnya. Taman itu sudah indah sekarang, namun bagiku taman itu kehilangan indahnya jika aku ke sana tanpa dirimu. Tidak sayang, ini bukan gombal, aku jujur bercerita dalam hatiku.

Astaga, aku lupa menanyakan kabarmu, mungkin karena rasa semangatku terlalu berkobar untuk bercerita perihal tugas-tugasku. Maafkan aku lagi.

Bagaimana kabarmu? Apakah kamu sudah tahu keputusan Tuhan kita akan nasib cinta ini? Jika sudah, datanglah pada mimpiku dan beritahu aku. Aku di sini baik saja, tak ada perlu kau khawatirkan, cukup kamu jaga kesehatan di sana. Doakan aku dari jauh, peluk aku jika kecewa sedang menghampiriku, dekap aku dalam kerinduanmu yang kuharap tak pernah padam darimu.

Angki kekasih terbaikku, ini suratku yang kukirimkan di akhir maret. Semoga bisa sedikit mengobati kerinduanmu, jaga hatimu baik-baik di surga itu, jangan biarkan bidadari yang lain merebutnya,kalau tidak aku akan marah. Aku mencintaimu dalam mentari walau itu membakar hati, aku menyayangimu di antara sinar rembulan yang tak pernah padam, jika langit sedang menangis aku rasa kau sedang sedih, maka dari itu jangan sedih, agar langit tak membasahi bumi ini, tempat Tuhan kita mengatur pertemuan kita beberapa tahun lalu. Aku merindukanmu…”

“Esok akan kukirim surat ini” damaiku dalam hati.
***

Mentari yang kemarin menghilang, sinarnya mulai merambat menusuk-nusuk kulit ini bahkan tebalnya selimut pun tak dapat menahannya. Tanggal terakhir di penghujung maret, surat Angki harus segera kukirimkan.

Jalan setapak menuju pusaranya semakin dekat, jejak-jejak sandal penjaga kubur masih jelas terpatri di atas tanah becek bekas hujan semalam, Angki sedang bersedih, air mata membasahi seluruh permukaan pusaranya. Entahlah…

“Angki yang tersayang, aku datang” ucapku sambil menciumi pusaranya.
Aku mulai menaburkan bunga sebagai tanda aku menghiburnya hari ini, kuletakkan surat itu tepat di samping pusaranya.

“Angki, berdamailah dengan duniamu sekarang. Akupun sama berdamai dengan hati dan mencoba sabar” tuturku sembari membersihkan rumput nakal yang seakan tumbuh tanpa isin dariku, merusak keindahan tempat Angki beristirahat saja.

“ini suratku, bacalah dan kutunggu kamu pada mimpiku malam ini” lalu kuciumi lagi nisan itu.”

Langkah kaki berat melangkah, namun kucoba dan terus mencoba untuk berjalan pergi meninggalkan jejak agar Angki tahu aku telah menengoknya pagi ini. 

dari hati yang selalu menyimpan seribu rindu,
yang takkan pernah mati.

Sabtu, 08 Maret 2014

Yang Kutahu, Tuhan Kita Tak Pernah Tidur


Chapter 1

Pagi yang terbujur kaku, entah mengapa panorama alam pagi ini menambah serdadu pilu di ujung kakiku, aku sulit melangkah, semenjak kepergian Angki yang tiba-tiba membuat jantungku terasa berhenti berdetak beberapa menit setelah ku dengar kabar itu, ku pikir aku telah mati, ku coba tenangkan hati, perlahan mulai ku atur nafasku hingga semuanya bisa kembali. Angki, lelaki yang menemaniku hingga hampir tiga tahun ini perlahan tak ku ketahui dimana rimbanya, menghilang bersama senja di batas kota. Aku tak tahu kemana langkah ini akan membawaku tuk mencarinya di daratan kota Anging Mammiri ini. Kota yang kental dengan budaya bahkan pertentangan tentang seseorang yang beda agama.

Minggu sore, ku kumpulkan semua nyaliku untuk menemui di perbatasan gereja dan mesjid yang menjadi tempat beribadah kita berdua. Aku menunggu seperempat hari di sana, namun jejak kakimu tak kunjung ku temukan. Angin kadangkala meluluhkan hasratku untuk menemuimu, namun hati ini ku kuatkan, agar mataku segera menangkap cinta di matamu sore itu.

“Itukan adiknya” teriakku dalam hati.

Aku tak melihatmu di antara puluhan orang yang berbaris keluar dari gereja, hanya adikmu yang kulihat memakai dress biru selutut yang keluar dengan sendirinya, aku ingin sekali menghampirinya, lalu akan kutanyakan dimana kamu saat ini. Namun, keberanianku belum berhasil ku kumpulkan, aku masih takut menyapa keluargamu, setelah keputusan kita untuk backstreet beberapa tahun yang lalu. Aku tak mengerti, kabarmu hilang bagai tertutup abu vulkanik kelud, aku tak dapat mencarimu. Aku tak tahu kemana Tuhan menyembunyikanmu di atas kota ini, kadangkala dalam sujudku, aku bertanya pada Tuhanku, “ Ya Allah, mohon bujuk Tuhannya agar keberadaannya segera aku ketahui” namun Tuhanku tak kunjung memberi jawab, apakah mungkin Tuhanmu dan Tuhanku sedang memendam dendam sehingga umat-Nya tak ada Dia izinkan untuk bersatu layaknya umat yang lain. Entahlah, aku sendiri juga bingung. Sudah hampir habis manusia yang suka melipat tangannya saat berdoa di dalam gereja itu, aku melihat dari jauh hanya ada deretan kursi dan juga bekas hiasan natal di dalamnya. Aku beranjak pergi membuang harapku jauh-jauh agar dapat bertemu dengan mata yang memberiku semangat di sore ini.

Senja di kota Daeng,

Suara azan telah dikumandangkan di mesjid  aku selalu shalat, ini sudah menjadi rutinitasku, lima kali dalam sehari aku harus bersujud menyanjung Tuhanku agar kelak Ia memberikan surga jika sewaktu-waktu bumi ini telah ia hancurkan, Tuhanku tak jahat, ini sudah menjadi suratan dari kitab yang selalu ku bawa setiap kali pertemuan kita, Alquran. Jika boleh kau baca, aku ingin sekali memperlihatkan bahwa Tuhanku sangat baik dalam mengatur kehidupan umatnya. “terus bagaimana dengan Tuhanmu, apakah sebaik Tuhanku?” aku selalu bertanya hal itu, dan seketika kau elus jilbab ku hingga tak kutahui bentuk apa yang telah kau ciptakan. Kamu selalu menungguku hingga sujudku yang terakhir di taman cinta kita.

Tepat dua bulan aku, aku menjelma menjadi ditektif yang mencarimu kemana-mana, hampir setiap minggu aku menunggu di batas tempat beribadah kita berdua, namun hasil yang kudapatkan hampir sama dengan yang lalu. Sampai pada akhirnya aku beranjak ke rumahmu, mengintai dari jauh. Aku memang laksana pencuri yang memata-matai rumahmu, tapi bukan itu tujuanku, aku ingin mencarimu di tempat kau selalu pulang usai bertemu denganku.

Saat itu aku melihat, ayah dan ibumu keluar dari pintu rumah. Mereka seakan terburu-buru ke suatu tempat. Maaf, kali itu aku mengikuti ibumu, namun itu satu-satunya jalan agar aku dapat menatapmu lagi setelah sekian lama kau menghilang dengan ponsel yang tak pernah kau aktifkan hingga saat ini.
Rumah sakit umum daerah,
Aku melihat mereka masuk ke dalam rumah sakit itu, pikiranku sudah melayang entah kemana ia berpetualang mencoba menerka maksud mereka datang kesana. Aku lihat mereka memasuki sebuah kamar , aku menghembuskan nafas seakan merasa puas dengan semuanya, aku pikir itu kamu, Angki ku. Ternyata hanya seorang pasien tua yang berhasil mataku tangkap.

“ah, kamana aku harus bersembunyi” kataku dengan tergesa-gesa mengambil tempat persembunyian.
Aku lihat ayah dan ibumu memasuki ruangan lain, aku  mengikutinya.

Kau tahu betapa terkejutnya aku, ketika melihat namamu di depan pintu itu, jemariku seakan tak bisa berkuat lagi, aku duduk seakan berusaha mengajak hatiku berdamai dalam sedih yang memuncak, Tanya ku sudah membeludak, entah siapa yang akan menjawabnya. Sejak dua bulan yang lalu, rumah sakit ini menjadi rumah keduamu. Yang aku tak suka, kau tak pernah berkata yang sebenarnya kepadaku.

Aku mencoba masuk ke ruangan itu, namun belum sempat kakiku melangkah hingga kedua kalinya, ayahmu menegurku. Ia melihat jilbabku, aku tak mengerti, apakah rumah sakit ini hanya diperuntukkan untuk umat yang bertuhan Yesus saja?,

“ada keperluan apa?” tanyanya.
“aku ingin bertemu Angki” jawabku dengan tetesan air mata.
“ suruh dia keluar” Angki menyeru ke arahku.

Sontak aku kaget, entah mengapa kau melemahkan sendiku dengan perkataan itu, benar-benar tak habis pikir olehku. Kau hanya membalikkan badan setelah kau katakan itu, aku tahu kau menangis, aku bisa merasakan pilu itu di dalam hati ini, aku tak tahu apa alasanmu melakukan itu. Aku keluar dengan  kesedihan, tak ada seorangpun yang menyeru agar aku tetap berada di ruangan ini.
Aku menjagamu dari balik ruangan, menidurkan diriku diantara lelah yang berkecamuk tak ingin memberi ampun padaku. Diantara hitungan jari orang yang menjengukmu, entah mengapa hanya aku yang tak dapat menginjakkan kaki di ruangan itu.

Hingga hari itu tiba,

Aku masuk menyusup masuk ke ruanganmu, dengan baju yang tak pernah berganti dari malam kemarin. Aku memegang tanganmu, saat itu kau sedang tidur. Ku rasakan betapa berat sakit yang kau rasakan, aku tak hiraukan seberapa keras keluargamu padaku, aku tak peduli seberapa kuat Tuhan kita berusaha memisahkan, yang aku peduli, kau harus tetap hidup hingga janji kita untuk menyatu dapat kau tepati.

“apa yang kau lakukan di sini, keluar cepat sebelum ayah dan ibuku melihatmu !” Angki berkata dengan genggaman tangan yang ia lepaskan seketika.

“aku..aku… hanya ingin berada di sini, apakah itu salah” jawabku.
“jelas salah, cepat pergi !”

“ku mohon jangan dustai hatimu, aku tahu kau masih ingin melihatku di sini, bahkan kau selalu berharap aku ada diantara orang yang selalu menyumbangkan doa setiap kali bertemu denganmu, ku mohon !” kataku

“aku tahu itu, kau pikir aku tak tersiksa dengan ini. Berusaha dingin setiap kali kau berada di dekatku. Berusaha mengacuhkanmu, sementara hatiku ingin selalu mendekapmu. Namun kau tahukan, bahwa ada benteng yang tinggi berada di tengah-tengah kita, aku tak bisa bercerita banyak lagi, aku jika aku masih diberi hidup sejam oleh Tuhanku, kau tahu apa inginku?”

“apa” jawabku

‘‘aku hanya ingin merasakan bagaimana menjadi pasangan yang direstui oleh Tuhan, keluarga, dan dunia ini. Aku hanya ingin merasakan bagaimana mencintai yang sesungguhnya, jika Tuhan mengijinkan, ku hanya ingin itu” jawabnya sesekali ia batuk.

Kutub utara dan selatan seakan bertukar, aku tak kuasa menahan buliran air mata yang dari tadi ingin kutumpahkan, aku memeluknya diatas ranjang pasien. Ku teteskan air mataku tepat di dadanya,berharap ia merasakan keinginanku juga sama dengannya.

“kami mengijinkanmu, Angki. Rasakanlah bahagiamu sebelum itu tak bisa kau rasakan lagi.” Jawab orang tua Angki dari balik pintu masuk ruangan.

“tidak Bu, aku tahu ini menyalahi aturan Tuhan.” Angki menjawab.

“ tapi apakah Tuhan tak menginginkan bahagia untuk setiap pengikutnya?”

Aku tahu orang tua Angki berkata seperti itu karena umur angki terbatas lagi, aku tahu hasil diagnosa dokter itu, dia memvonis Angki menderita kanker Tulang. Pantas saja dari dulu ia selalu mengeluh ngilu disekujur tubuhnya. Semuanya terjawab.

“aku permisi pulang” aku mengarah ke arah pintu keluar.

“kau mau kemana nak, tak maukah kau menemani Angki malam ini?”

“tapi…”

“sudahlah, tetap disini. Kami pamit pulang dulu” mereka beranjak pergi.

Entah apa yang kurasakan, apakah aku bahagia atau merasa sedih dengan situasi ini. Aku telah mendapat restu. Tuhan, jika aku engkau takdirkan dengan Angki, ku mohon dengan segala kuatku, bahagiakan kami dengan segala waktu yang tersisa.

“sini sayang” Angki memanggilku.

Dia memanggilku sayang, untuk pertama dan kuharap ini bukan terakhir kalinya dia menyapaku dengan panggilan mesra itu.

“malam yang indah, ku harap malam ini menjadi saksi bisu kebahagiaanku. Sayang, kau tahu Tuhanku berbisik padaku jika malam ini akan menjadi malam yang menyatukan kita berdua. Mohon bawa aku ke taman dekat tempat beribadah kita berdua.

“aku menolaknya” jawabku dengan tegas.

“ini terakhir kalinya” jawabnya

Mendengar perkataan itu sontak membuat aku untuk mengaminkan permintaan dari Angki. Malam itu ku bawa dia kesana tanpa sepengetahuan ayah dan ibunya. Aku takut dosa, namun entah mengapa aku lebih takut kehilangannya, aku tahu ini salah, bahkan sangat salah.

“aku ingin menghabiskan malam ini disini, bersama genggaman tangan yang selalu memberiku kehidupan setiap kali aku berada di dekatnya , itu kamu” dia menunjuk ke arahku.

Aku selalu tersenyum, bahkan sesekali menyandarkan kepalaku di pundaknya, aku tahu pundaknya tak sekuat dulu. Aku ingin selalu seperti ini, dua bulan yang lalu, waktu kebersamaan kami seakan terbuang percuma dan saat ini Angki membayarnya.

“terima kasih, Angki” kataku

“untuk apa?”

“untuk semua keindahan cinta yang selalu kau suguhkan hingga malam ini, terima kasih untuk semua cinta dan pengorbanan yang selalu kau lakukan, aku ingin sekali meminta kepada Tuhanmu agar aku dan kamu dapat Dia restui”

‘‘tenanglah sayang, kau tahu, Tuhan kita sedang rapat besar-besaran bersama malaikat dan yang lainnya untuk membicarakan nasib kita berdua. Lihatlah betapa istimewanya cinta kita” dia mencoba menenangkanku dalam dekapnya.

“semoga saja” jawabku.

Aku bersandar agak lama, aku tak merasakan detak jantung Angki lagi. Entah siapa yang mencurinya. Ku coba membangunkannya namun tak ada perlawanan dalam dirinya. Dengan sekuat tenaga kubawa Angki  ke rumah sakit, lagi dan lagi dokter itu yang memeriksanya. Aku menunggu di ruang tunggu diantara orang yang lalulalang mencari ruangan sanak saudaranya yang sakit.

“ apa yang terjadi” Tanya orang tua Angki.

“Angki tak sadarkan diri, di taman tante.”

‘‘kau membawanya keluar tanpa izin kami?”

“ tapi itu permintaan Angki, tan !”

“dasar bodoh, kau tahu Angki tak boleh kena angin malam, itu berpengaruh pada kesehatannya”
Aku terdiam, aku seperti dihakimi karena kasus berat, seakan aku melakukan percobaan pembunuhan pada kekasihku sendiri. Dokter keluar dari ruangan, seakan menjelma menjadi malaikat pencabut nyawa. “Angki sudah pergi” katanya.

Orang tua Angki melangkah masuk ruangan, sementara aku tak ada yang mempedulikan. Aku hanya menangis terisak di atas kursi tunggu. Tak ada yang bisa ku lakukan, bahkan saat jasad Angki tak bisa ku sentuh lagi, orang tuanya melarangku, mereka menerka bahwa aku penyebabnya.
Malam yang mencekam, jariku tak dapat menyentuhmu lagi malam itu, Angki. Bahkan untuk mengucapkan selamat tinggal itu tak dapat tersampaikan lagi.
angki, selamat jalan sayang :)
Pagi yang mendung, aku merasa alam juga bersedih karena kau tinggalkan. Angki aku ingin menyampaikan rasa belasungkawa Tuhanku padamu. Ku ikuti rombongan pelayatmu menuju singgasana terakhir, tempatmu tertidur hingga surga untukmu selesai dibangun. Aku menunggu hingga semuanya sepi, hanya ada fotomu di atas pusara.
Aku tahu jiwamu telah tenang, namun aku merasa kau selalu mengikutiku kemana pun langkahku beranjak. Angki ,

“kekasihku tenanglah disana, maafkan aku tak bisa menciptakan malam yang indah untukmu” jawabku seraya menciumi pusaranya. Sayang, aku titipkan surat untukmu semoga angin senantiasa menyampaikannya padamu ketika kau telah berada di surga.

Teruntuk kekasihku, Angki.
sosok yang paling kusayangi, semoga kau membacanya dengan senyum di surga.
Kekasihku yang terhebat, terima kasih untuk tiga setengah tahun ini. Terima kasih telah mengajariku bahagia di atas perbedaan yang ada. Ketika kau baca surat ini, ku yakin kau telah duduk manis di surga  yang Tuhanmu selalu janjikan. Kekasihku yang kucintai, maaf aku tak bisa mengantarmu ke pusara terakhirmu, itu karena orang tuamu mengira aku penyebab kau menghadap Tuhanmu secepat ini. Kekasihku, aku tahu saat dalam peti kau merasa sangat sempit, kau yang selalu mengajariku bahwa dunia sangatlah luas, mungkin kini teorimu itu telah berubah. Ku harap kau tak tersiksa di dalam peti itu, untunglah kau agak kurus jadi kau agak leluasa di dalamnya, sayang.
Kekasihku yang berbaik, aku berharap Tuhanmu dan Tuhanku sedang bekerja sama menjadi arsitek untuk menciptakan surga untuk kita dapat menyatu nanti, walau aku masih bertanya, akankah Tuhanmu dan Tuhanku menjanjikan surga yang sama untuk kita?. Sayangku, sampai saat ini aku masih belum percaya akan kepergianmu, aku begitu berat melepasmu saat ini. Bahkan aku butuh waktu seumur hidup untuk melupakanmu.
Kekasih, kau tahu..semenjak kepergianmu, aku sudah tak takut mati, karena aku tahu kau sedang menungguku di surga itu. Aku tak ingin membenci dunia dan isinya, karena tak pernah mengizinkan orang yang melipat tangan dan menadahkan tangan saat berdoa menyatu dalam ikatan cinta yang suci.
Sayangku, kau perlu tahu, sejauh apapun surga dan dunia itu, aku tak pernah peduli. Aku selalu menjagamu dari jauh, mengirimkan setiap kata sayang bersama angin dan ku harap semoga angin itu menyampaikannya.
Tenanglah sayangku, kekasihku, aku selalu mencintaimu hingga bumi tak bermentari lagi, hingga malam tak berbintang lagi, atau bahkan ketika aku telah dimiliki orang lain, aku akan selalu menyimpan rasa cintaku padamu di sudut hatiku, lalu akan ku kunci agar tak ada yang bisa mengganggumu.
Surat dari kota cinta, aku dan bersama kenangan kita. Hati-hati dalam perjalananmu menuju surga, kelak jika kau telah sampai, Tuhanmu akan memberikan surat cinta ini. Aku mencintaimu sayangku.
Dari yang terkasih dan selalu mencinta, Aku.

Tuhanku Yang Maha Pencipta cinta, mohon bujuk Tuhannya agar Cinta kami bisa menyatu, walau engkau tak izinkan raga kami untuk bersatu, aku mohon !

kekasih, senyummu akan terus terbayang,
dari wanita yang selalu menadahkan tangannya
berdoa agar kau cepat sampai di surga kita, aku !


Kamis, 27 Februari 2014

Dari Kota Penuh Cinta, Dadaku penuh sesak akan kerinduan 1 Maret 2014



Suara ketukan keyboard computer seakan bersenandung ditengah sesaknya relung rasa. 
Jemariku masih bermain bersamanya, mencoba merangkai kata demi kata untuk melegakan dada ini sejenak. Matahati tepat berpatri di atas namamu, warnanya pun masih sama dengan yang kemarin, tapi panasnya agak sedikit mereda, sayangku. 
Masihkah kau ingat candaan kita di tempat kenangan kita?
Saat itu senyummu benar-benar lepas, lepas entah kemana dan sampai sekarang tak pernah tertangkap lagi oleh lensa mata hatiku. Sepoi angin menambah dinginnya malam. 
Untuk seseorang yang kucintai, aku ingin sedikit bercerita, malam ini aku menitip rinduku pada angin yang berlalu, ku harap angin itu akan sampai pada pijakanmu, ku mohon rasakanlah, ada rindu yang ku titip disitu. Aku tak mampu menyampaikannya langsung, grogiku untuk menatapmu belum saja hilang, akupun tak mengerti itu. Walau kini Tuhan telah merenggut mata yang biasa kau lihat.

Lelakiku, adakah kau tahu kala mata hatiku tak mampu lagi melihatmu sekarang?
Melihat sosok yang bisa ku lihat sempurna, tak ada yang lain hanya dada yang selalu berdegup kencang. Mataku tak mampu menahan tangis, belum puas mataku ku manjakan dengan menatapmu.  Sekarang, mataku harus terbiasa tanpamu. Jika boleh ku utarakan, dunia tak lagi indah sayangku, kau seakan menghilang bersama mataku. Berjalanpun aku tertatih, aku merasa sendiri. Kau akan tahu, mengapa di setiap detik waktu di hidupku harus selalu bersamamu, sebab udara hidupku yang tersisa hanyalah kamu. Jika kau pergi, apakah aku bisa hidup?

Terakhir ingin ku sampaikan, air mataku takkan pernah bisa berhenti menangisimu bahkan lisanku seakan selalu bertasbih namamu disamping nama Tuhanku. Sayangku yang selalu ku kasihi sepanjang matahari tetap terbit di timur, kau harus tahu awal perkenalan kita adalah surga pertama setelah surga yang Tuhan janjikan, perasaan indah ini adalah anugrah, dan hatimu adalah tempatku hidup selain di dunia ini. Entah dengan siapa aku bersaksi, dadaku masih bergetar setiap cinta itu selalu datang.
Dari perempuan yang melihatmu dari mata hatinya

Hati…
Aku tak bisa tenang tanpa cintanya yang mengisi relung rasa
Tatapannya...
Menusuk masuk kedalam mata hati.

Cintaku ini tak terbatas selama kau selalu mencinta

Jumat, 31 Januari 2014

Tentang Rindu yang Tak Bertepi

 

 Dari hati yang selalu penuh cinta, 31 Januari 2014

Selamat malam, kekasih.
Bagaimana kabarmu malam ini?
Masihkah kamu selalu memikirkan aku dalam diam yang terselimuti rasa kecewa?
Apakah kamu masih setia menghitung bintang yang bertaburan di langit yang seakan sedang mengatur posisi membentuk senyummu malam ini?
Aku merindukan itu, senyum yang biasa membuat hati ini penuh semangat meski tak pernah terlihat  sekalipun . entah mengapa jemariku seakan tak ingin berhenti untuk menari di atas keyboard dan mataku pun betah bercengkrama dengan layar laptop ini . Tak ku tahu seberapa besar gaya gravitasi rindu ini sehingga aku seakan selalu tertarik ke pusarannya yang menggelikan hati ini kekasih. Entah mengapa rindu ini sering kali kali hadir saat aku tak mengundangnya, tak sedikit buliran air mata yang membasahi pipiku beberapa hari ini. Ku pikir kamu sudah tahu penyebab dari  rindu ini, yah itu kamu.
Seminggu yang lalu, perjanjian untuk tak mengungkitmu kembali ke dalam hidupku seakan ku ingkari kembali. Aku benci diriku ini, yang selalu berpura-pura bisa namun tak mampu tuk menopang kesedihan sendiri, tapi kamu tak perlu mengkhawatirkan itu,
“sendiri? “
Kata itu sudah biasa menemaniku.
Tahukah kamu, semalam rasanya dadaku terpenuhi oleh udara rindu yang mendesak masuk ke relung paru-paruku dan seakan tak ingin keluar lagi, rindu itu seakan ingin selalu bersamaku, berulang kali aku berusaha tuk tak peduli, namun semakin keras usahaku semakin kuat pula rindu yang ingin menyinggahiku,
Semenjak aku mengenalmu, serasa aku menjelma menjadi musisi yang perlahan menciptakan lagu demi lagu, yah walaupun aku tahu, lagu itu hanya bisa kunikmati sendiri, bagiku orang lain tak perlu tahu banyak. Jika aku sedang merindu, aku selalu memutar rekaman lagu yang menceritakanmu, mellow memang, namun entah mengapa lagu itu selalu berhasil mengantarkan aku ke dalam tidur yang lelap.
Sampai saat ini, aku masih memikirkan apa alasan Tuhanmu dan Tuhanku tak membiarkan wajah kita saling berpandangan dalam nyata,  kita saling membalas senyum satu sama lain, aku memimpikan itu, bahkan sangat mengharapnya. Jika ada orang yang menanyakanmu, apakah kamu tau apa jawaban yang selalu ku lontarkan padanya, kekasih?
Aku selalu berkata “dia adalah seseorang yang selalu berhasil membuat bahagia meski tak selalu menawarkan senyum dalam setiap pertemuan, dia adalah seseorang yang tak bisa membuatku mendua sedetikpun”
 lalu dia bertanya “apakah kamu pernah bertemu dengannya?”
aku hanya bisa menjawabnya dengan senyum. Entah berapa kali pertanyaan ini sering kudapatkan. Aku tak peduli seberapa banyak mulut yang mencibir ini, yang aku peduli kamu tetap mencinta dalam beda, dan aku tahu itu tanpa kau jelaskan, telepati hati yang memberi signal.
Perlahan tapi pasti, kamu akan terlepas dari hidupku, kamu akan tetap setia pada agamamu begitupun aku di sini, tanpa ragu ku ucapkan ini. Cinta hanya sebuah kata, namun dengan hadirnya kamu kata itu menjadi jauh lebih berarti. Aku tak tahu apa yang harus ku tuliskan jika berbicara kenangan terindah yang pernah kamu berikan, bukan karena kamu tak pernah memberikannya, namun bagiku apapun yang kamu lakukan  itu adalah kenangan terindah yang akan selalu menyelinap masuk ke hatiku.
Kekasih, aku selalu memanggilmu dengan sebutan itu. Walaupun kamu dan aku tak terikat pada hubungan apapun. Aku tak pernah bermaksud untuk mengganggumu dalam ketenangan yang berusaha kamu ciptakan dalam hidup yang jauh lebih baik lagi bersama wanita yang sama denganmu, tak seperti aku yang selalu menghinggapi kata beda. aku cukup tahu diri, aku pernah mengganggumu dalam beribadah di gereja, bukan karena telepon atau pesan singkatku. Namun mungkin kamu merasakan kiriman rindu yang terbawa oleh angin ke arah tempat ibadahmu.
Kekasih, aku tahu ini hanya tulisan konyol, aku hanya ingin melampiasakan rinduku tuk kesekian kalinya. Ku mohon jangan egois lagi dalam mencintaiku, aku juga ingin hadir di hidupmu.

Dari seseorang yang selalu menyebutmu kekasih
Yang dadanya selalu sesak karena rindu
Yang selalu jadi cibiran teman-temannya
Namun selama ini kamu tak mengerti,
 Dia rela menghabiskan air matanya,
dalam melampiaskan kerinduannya.

Minggu, 19 Januari 2014

Aku Pergi



Untuk hari yang penuh air mata, tepat dua tahun lalu air mataku tertumpah tepat di tanggal ini.
Tanggal yang penuh dengan ceria saat salah satu sahabatku berulang tahun. Hari ini aku kembali mengulangnya. Tepat dua tahun yang lalu, kabar terakhir darimu berhasil melumpuhkan hatiku sampai saat ini. Ku rasa cukup sampai di sini air mataku  terjatuh, jatuh untuk menangisimu. Menangisi setiap kenangan tak nyata yang kau suguhi kepadaku. Selamat malam tanggal 19 lelaki yang saya sayang sampai detik ini. Aku teringat pertama kali kita kenal, dan itu hanya lewat pesan singkat saja.

 Sedih rasanya bisa memiliki hatimu namun tidak untuk ragamu. Sayang, jika boleh aku curahkan semua isi hatiku, aku ingin kau perlakukan seperti wanita lain, menyapa pagiku dan memberi asupan semangat setiap saat. Memberi perhatian jika sakit sedang menimpaku, atau bahkan menelpon ku setiap malam datang walaupun itu hanya berkata selamat tidur. Seingatku kau tak pernah melakukan itu. Tapi apakah aku pernah protes untuk itu? Tidak sama sekali, aku juga bingung dengan perasaan ini.  Berangkat dari bulan pertama hingga meginjak 24 bulan yang tepat hari ini, rasa sayangku tak pernah berkurang sedikitpun, entah mengapa keabstrakanmu seakan tak pernah menjadi dinding pernghalang untukku. Aku kadang berpikir, apakah kamu hanya sekedar cerita dari temanku? Aku mencintai namamu saja.  Untuk sepenggal nama yang ku sapa dalam malam kelam berselimut awan hitam. Yang namanya selalu ku padukan dalam setiap lagu yang kuciptakan, yang cintanya selalu ku agung-agungkan di atas segalanya, yang membuat hatiku penuh sesak untuk menerima cinta lain, aku menulisnya dengan air mata. 

Hari ini semuanya telah ku pikirkan matang-matang, aku putuskan untuk berhenti mencintaimu, maaf jika bintangmu ini meninggalkan malamnya. aku tak sanggup lagi hidup tanpa perjuanganmu, aku juga ingin seperti wanita yang lain, selalu kau perjuangkan dalam setiap waktu. Aku juga ingin punya cinta yang nyata, cinta yang raganya bisa ku tunjukkan di depan sahabat ku. Bohong jika aku tak butuh cinta, aku hidup karena cinta-cinta orang yang menyayangiku, dan itu termasuk juga cinta darimu. Aku terlalu egois jika meminta kamu untuk berada di sampingku saat ini. Tuhan kita takkan pernah mengijinkan. Aku terkadang berpikir, mengapa cinta diciptakan tapi perbedaan tetap saja tak dapat disatukan oleh cinta? Sayang, hatiku penuh sesak, merangkai setiap buliran air mataku menjadi mutiara cinta yang kelak kan menyatukan kita.  Salahkah Jika alquran di tanganku dan alkitab di tanganmu itu kita satukan menjadi sebuah cinta? Ini hukum alam, yang beda tetap saja tak bisa menyatu. Untuk terakhir kalinya aku ingin menuangkan segala kesalku dalam mencintaimu. Sayang, cinta tak butuh banyak alasan untuk dapat bersatu, aku hanya mohon kepadamu cepat hubungi aku, katakan apa yang ingin kamu katakan .

Aku bosan mendengar kata cinta yang kau titip lewat telinga temanku, aku bosan akan itu ! cinta itu perlu kita perjuangkan berdua, jangan hanya satu pihak saja. Aku kadang kesal jika kamu tak punya keberanian sedikitpun untuk menyapaku, aku tak cantik tak seperti mantanmu yang lain. Yah aku sadar itu, sangat sadar malah. Aku tak punya apa-apa selain cinta yang selalu menunggumu, tak ada yang lain. Tepat dua tahun ini, aku lepaskan kamu dalam hatiku. Aku tak ingin berusaha melupakan,  biar saja waktu yang perlahan menghapuskanmu, sampai saat ini rasa itu masih ada, untuk esok, bahkan untuk 1000 tahun kemudian.

6 Tips Cinta Lama Bersemi Kembali


Tak ada sesalku dalam mencintai, terima kasih untuk cinta yang hampir 3 tahun ini, terima kasih untuk perkenalan konyol yang selalu ku ingat hingga saat ini. Ini bukan bukan kepergianku, ini hanyalah saat di mana kau biarkan hatiku sedikit kosong tuk menerima hati yang lain. Saya sayang kamu, saya selalu berharap Tuhan kita segera merestui kita, ku harap jika kita berjodoh kamu akan kembali tanpa ada kata beda. Kembalilah jika kepercayaan kita telah sama, aku menunggu namamu bersanding di dalam buku yang di sahkan oleh penghulu, aku sangat mencintaimu walaupun ragamu tak untukku, terima kasih untuk cinta yang kau berikan, aku bahagia. salam sayang dari perempuanmu !

aku tak pergi, jangan pernah berpikir akan itu
sebab aku sendiri tak sanggup untuk itu.
aku takkan jauh,
jika kau rindu,
usap dadamu, rasakan setiap detaknya.
aku selalu ada di situ, di hatimu, sayang !

Kamis, 16 Januari 2014

Jangan Biarkan Cinta Menunggu !


Suara kokok ayam dari luar rumah sukses membangunkanku dari mimpi yang seakan tak ingin ku tahu ujungnya. Senin pagi, aku bangun terlambat karena semalam aku menghabiskan waktu di depan komputer untuk menyelesaikan tugas akhir semester. Aku ke sekolah dengan kondisi yang serba mendadak, baju putih dan rok abu-abu yang belum disetrika, sepatu yang belum di semir. Perut ku pun lupa ku beri jatah makan pagi.
“semoga saja keberuntungan berpihak padaku hari ini.” Ucapku setelah sampai di parkiran motor sekolah.
Aku berjalan menyusuri koridor dekat ruangan guru, mengendap-ngendap masuk layaknya orang yang sedang mencari sesuatu. Upacara sekolah sudah dimulai, aku bingung harus ke arah mana agar bisa masuk ke arah barisan.
“mau kemana kamu?” seseorang menepuk pundakku dari belakang. Aku kaget dengan tegurannya. Tanpa berbalik badahn aku menjawab tanpa melihatnya.
“ii…nii Pak, mau. Mau ke toilet Pak.” Jawabku dengan nada yang gugup. Entah harus ku atur bagaimana lagi suaraku ini, dari nada do re mi fa so la si dan seakan tak ingin kembali ke do lagi. Saking gugupnya aku.
“apa katamu, Bapak? Kumis pun aku tak punya, jangan seenaknya panggil bapak-bapak kamu ini !”
“eh, maaf kak Den. Aku pikir kakak itu pak satpam sekolah.” Jawabku setelah membalikkan badan ke hadapannya.
“kamu terlambat juga yah?” tanyanya.
“iya kak, aku mau masuk ke barisan tapi bingung caranya bagaimana.”
“halah kamu ini, sini ikut aku !” dia menarik-tanganku.
Entah mengapa ada perasaan yang berbunga-bunga di hatiku, serasa hati ini sudah seperti taman yang di penuhi oleh warna bunga. Duniaku teralihkan kepada matanya. Dia Denting, kakak kelasku. Seorang cowok yang hobinya menghabiskan waktu di lapangan kecil di sekolah untuk bermain bola. Aku merasa terpikat pertama kali saat melihatnya bermain bola pada saat jam istirahat sekolah. Auranya begitu memikat. Banyak teman sekelasku yang suka padanya. Namun semuanya terpatahkan ketika aku tahu kalau kak Denting ini sudah milik kak Dena, kakak kelasku juga. Entah apa yang ku rasakan saat ini, cemburu pun aku tak bisa, dia bukan siapa-siapa ku. Tiba-tiba bunyi bel sekolah menyadarkan aku akan lamunan di barisan upacara ini.
“Cin, ayo masuk kelas ibu Jina sudah di ambang pintu kantor” panggil sahabatku yang bernama Desi.
“iya, kamu duluan aja. Aku mau ke kantin beli minuman dulu” jawabku
“ok, duluah yah, dah !”
“dah” sambil mengangkat lima jariku.
Kadang kala jatuh cinta tapi sembunyi-sembunyi itu tak ada habisnya. Menjelma sebagai seorang layaknya detektif mencari-cari setiap jejaknya di setiap sudut sekolah. Dan hanya bisa merangkulnya lewat langit biru, membiarkan hujan membasuh wajahnya dengan lembut, merangkulnya dalam doa dengan maksud agar dia menyadari bahwa ada cinta yang sedang menunggunya. Cinta itu dipilih, aku memilihnya karena hanya dia yang mampu membuatku seperti ini. Menjadi semangat ke sekolah. Cengkeraman tangannya pagi tadi seakan membuat jantungku bertambah dalam setiap ketukannya. Nafasku tak dapat ku atur, satu kata yang ingin terucap, dan itu adalah bahagia.
***
Aku memasuki kantin sekolah, suara bising mulai terdengar. Aku mendapati kak Denting dan kak Dena sedang berbicara di belakang kantin sekolah. Urat kepoku pun seketika keluar dari peradabannya. Aku menyandarkan telingaku di balik dinding, suaranya tak begitu jelas, namun kak Dena menangis. Sebagai perempuan aku tak tega melihat perempuan disakiti oleh lelaki. Aku menghampiri mereka di belakang kantin.
“kak Denting ngapain kak Dena?” jawabku seperti penyidik kasus tikus berdasi di gedung KPK.
“kamu gak usah ikut campur, ini urusan kami berdua. Dan kamu Dena, semuanya sudah cukup jelas. Lebih baik aku yang pergi” ucap kak Denting sambil menunjuk ke arahku dan kak Dena.
Aku semakin bingung dengan mereka, kak Denting pergi dan kak Dena pun ikut-ikutan pergi meninggalkanku.
“percuma aku ada di sini, kehadiranku tak menjadi jalan keluar untuk mereka berdua” aku juga ikut beranjak pergi.
***
Jam sekolah sudah selesai, riuh suara siswa di sekolah ini semakin memeriahkannya, ini adalah surganya siswa SMA, mendengar bunyi bel seperti mendengar nama sendiri disebut dalam undian berhadiah motor roda dua “ya iyalah roda dua, kalau roda tiga namanya bentor.”  Tawaku dalam hati.
Aku mengendarai sepeda motorku, motor warisan Bang Wendi yang berwarna merah tua. Namun aku merasakan ada yang aneh di bannya. Aku pun turun dan memeriksanya.
“astaga Tuhan, bannya bocor, bengkelnya juga masih jauh.” Berontakku dalam hati.
“kamu perlu bantuan?” suara ini sepertinya tak asing lagi, ternyata itu kak Denting.
“iya kak, ban ku bocor dan aku perlu tenaga untuk mendorongnya.”
“ya sudah, aku bantu.” Kak Denting turun dari motornya dan mengambil alih motorku sementara aku mengendarai motornya kea rah bengkel. Banyak sisi positif yang ku nilai dari kak Denting, selain dia adalah sosok yang penuh dengan semangat, dia juga orang tulus dalam membantu orang. Hal ini semakin menambah decak kagumku padanya. Aku sudah sampai di bengkel, sementara kak Denting belum tertangkap oleh fokus mataku. Aku menunggunya dengan sebotoln penambah cairan yang ku genggam.
“ini buat kakak” kataku sambil menyodorkannya minuman setelah dia sampai di bengkel.
“oh iya, makasih.”
“ini motornya kenapa dek” Tanya montir itu padaku, ini sama saja menghancurkan momen terindah dalam hidupku, belum puas ku tatap wajah kak Denting, tiba-tiba suaranya membuat kacau semuanya.
“itu pak, bannya bocor” jawabku
“kalau ini besok aja motornya diambil soalnya semua orang lagi antri” jelasnya.
“terus saya pulang naik apa dong , Pak?”
“nanti kamu pulang sama aku saja.” Kata kak Denting.
“tapi kak, apa tidak merepotkan? Kalau kak Dena lihat bisa mati aku ini kak”
“masalahnya kamu keberatan gak aku antar pulang?”
“ya udah kak, bener yah gak apa-apa?”
“iya” jawab kak Denting dengan mernyodorkan helm ke arahku.
***
Semenjak hari itu, kak Denting dan aku semakin akrab. Paginya sebelum ke sekolah kak Denting sudah menjemputku di depan rumah. Aku kaget dan aku baru sadar ternyata motorku masih ada di bengkel dan kak Denting sudah berjanji  untuk menolongku hingga masalah motorku selesai, dan mungkin ini bagian dari janjinya.
“ayo cepat , nanti kita terlambat” teriak kak Denting di halaman rumah. Aku hanya tersenyum dan berlari ke arahnya.
Aku sudah berhasil membuat teman sekelasku iri denganku, termasuk Desi sahabatku itu.
“kok bisa sih kamu akrab dengan kak Denting?”
“itu takdir des” jawabku sambil berlari ke arah kelas.
Hari demi hari berlalu, aku dan kak Denting seperti layaknya teman yang saling akrab satu sama lain, tak ada sekat di antara kita. Hingga pada suatu hari kak Denting mengajakku untuk makan sate depan kompleks. Aku tak punya kata tidak di dalam kamusku kalau soal ajakan makan yang ditawarkan olehnya. Seperti layaknya wanita pada umumnya, aku berdandan sebelum kak Denting datang, aku hampir saja menggunakan gaun, untung saja aku tersadar bahwa ini bukan acara makan di pesta kerajaan, ini hanya makan sate di depan kompleks.
“tintongg..tintong” suara bel rumah berbunyi
“iya tunggu kak” jawabku
Aku keluar  dari rumah, di teras rumah sudah ada kak Denting menunggu dengan sandal jepitnya. Walaupun semuanya terasa biasa saja, namun bagiku ini sudah seperti hal yang sangat luar biasa. Tanganku ditariknya menuju motor yang terparkir rapi di depan rumahku. Dia memacu kendaraannya menuju tempat dinner, lebih tepatnya penjual sate di depan kompleks.
“kak, kak Dena bagaimana kabarnya?” ucapku basa-basi padanya.
“sudah putus.” Jawabnya tegas.
“kapan kak?” tanyaku lagi
“waktu kamu ada di belakang kantin”
“oh jadi itu maksudnya, kenapa kak Dena menangis”
“kenapa diputusin?” jawabku dengan level kepo tertinggi
“dia selingkuh, puas ! kamu ini ibunya ngidam apa waktu lahir? Cerewet banget.” Kata kak Denting, hidung ku pun dicubitnya hingga merah.
Aku tak habis pikir apa yang membuat kak Dena tega menduakan kak Denting, sosok yang hampir sempurna dengan kapasitas ganteng yang melewati ambang batas ini tega diselingkuhin oleh kak Dena. Namun ini nampaknya adalah kabar baik untukku, aku bisa mewujudkan cintaku agar tak bertepuk sebelah tangan lagi. Aku tak ingin egois, cinta juga tak bisa dipaksakan antar hati manusia. Biarkan cinta yang memilih mana yang patut cinta perjuangkan.
***
Kokok ayam menjadi alarm setia setiap paginya, angin sepoi-sepoi dari ventilasi rumah menambah kemalasanku untuk beranjak dari tempat tidur. Hari minggu adalah hari untuk pelajar, aku mengecek sms di handphone. Dan ku dapati nama yang selalu ku tunggu dalam setiap harinya, Kak denting !
“minggu sore aku tunggu kamu di lapangan futsal sekolah.” Tulis kak Denting di smsnya.
Aku kegirangan hingga aku tak sadar jika spray tempat tidurku telah merosot ke bawah. Cinta tak lagi bertepi, semuanya telah kembali keperaduan. Mentari minggu menambah keceriaan, tak ada lagi semilir duka dan kecewa. Tak ada lagi tangis yang terpecah karena cinta.
***
Sore ini begitu bersahabat, sebentar lagi warna langit akan menjadi tiga, sunset di ufuk barat mulai terpandang, paronama senja kali ini benar-benar mengundang kagum, ku harap tak ada kecewa yang Sang penguasa tawarkan hari ini. Aku memacu motorku ke arah sekolah dengan semangat. Berharap kak Denting menepati janjinya, aku penasaran dengan maksudnya untuk mengajakku ke lapangan.
***
Setengah jam sudah berlalu, aku melihat jarum pendek jamku tanganku sudah segaris dengan jarum panjangnya. Pukul enam sore, kak Denting tak kunjung datang. Mungkin karena hujan gerimis itu, ataukah dia hanya mempermainkanku tentang pertemuan ini. Aku sudah lama menunggu, jika dia tak kunjung datang aku akan pulang. Cinta akan pulang jika dia tak mendapat balasan dari yang dicintanya, mungkin cintaku telah salah pilih. Aku cukup bersabar dalam menunggunya. Ku coba untuk menelponnya, namun tak ada satupun panggilanku yang terjawab olehnya. Jika hati sudah dikecewakan, apakah cinta masih tetap harus menunggu?
Malam sudah menyapa, suara jangkrik telah berirama. Mendayu dalam melodi menyambut malam. Bau tanah karena hujan masih tercium hingga menusuk masuk ke hidungku. Fokus mataku tak pernah berhasil menangkap bayang kak Denting.
“aku ini bodoh, bisa saja kak Denting menemui kembali kak Dena dan memperbaiki hubungannya. Bukannya malah menyuruhku datang kesini menunggunya” jawabku sambil meniup  a jariku agar hangat itu tercipta.
Kak denting memaksaku untuk berpikir keras, ternyata bukan kak Denting yang pantas ku nobatkan sebagai cinta, cukup sampai disini perjuanganku.
***
Hari Senin menyapa, setumpuk pekerjaan rumah sudah siap  dikumpulkan. Aku sepertinya sudah flu karena ulah kak Denting semalam.
“Cinta..Cinta..” suara kak Denting menghentikan langkahku ke kelas.
“apa kak?” jawabku sinis.
“soal semalam aku minta maaf Cin. Dena menelponku, dia sedang sakit.”
“iya kak, aku ngerti. Duluan yah” aku melempar senyum
Pernyataan kak Denting membiarkanku menjatuhkan air mata di depannya. Rasa kecewaku mulai berkecamuk. Aku benci dengan menunggu, aku benci dengan rayuan lelaki, aku benci dengan janji.
“tapi Cinta..” kak Denting menarik tanganku.
“ada yang ingin aku  katakan padamu, malam itu aku ingin menyatakan perasaanku padamu, tapi tiba-tiba Dena menelponku dan waktu itu juga handphoneku tak sengaja ketinggalan di rumah sehabis Dena menelpon . Aku sudah tak ada apa-apa lagi dengan Dena, percayalah !”  
“seharusnya kakak lebih tegas dalam hal seperti ini, tak sadarkah kakak sudah membiarkan cinta menunggu hingga malam. Dengan harapan kakak akan datang tepat waktu namun nyatanya.”  Jawabku
“kamu jangan marah, masa hanya hal sekecil ini kamu marah sih Cin?
“apa kakak bilang? Kecil? Kakak jangan sekali-kali meremehkan hal kecil , karena hal sekecil apapun itu bisa mengajarkan kita banyak tentang cinta. Harusnya kakak lebih memperhatikan itu.”  Tuturku
“intinya, aku minta jawaban kamu sekarang Cinta !”
“aku kecewa dengan kakak , satu pesanku ‘ jangan biarkan cinta yang lain menunggu !’ “ ucapku sambil berlari menuju kelas.

Kak Denting mengajariku banyak hal, mungkin aku tak cinta tapi hanya sebatas kagumku. Kak Dena lebih membutuhkan kak Denting dibanding aku. Cinta akan selalu datang tepat waktu, bukan saat dimana kita perlu. Bukan tidak mungkin kita sibuk mengejar cinta yang tak Tuhan ijinkan untuk kita, kita terlalu egois untuk itu. Cinta bukan keegoisan, namun lebih kepada saling mengerti dan memberi harapan yang pasti, agar Cinta tak lagi menunggu lebih lama.

cinta ada bukan untuk ditunggu,
bukan untuk kau biarkan meneteskan air mata,
bukan juga untuk bertahan pada harapan palsu,
tapi cinta ada karena dia berharap menjadi cinta yang selalu kau nanti